Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] OPNSense Feature Highlights

Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] OPNSense Feature Highlights

[Mikrobits ETNA] OPNSense Feature Highlights


Pada artikel yang lalu kita sudah membahas bagaimana caranya untuk instalasi OPNsense di Mikrobits ETNA. Untuk instalasi OPNsense Firewall sendiri perlu diperhatikan perangkat yang akan digunakan. Karena supaya system dapat berjalan dengan lancar ada ketentuan minimum hardware yang harus dipenuhi.

Hardware Minimums 
  • 500 mhz CPU.
  • 1 GB of RAM.
  • 4GB of storage.
  • 2 network interface cards.
Suggested Hardware 
  • 1GHz CPU.
  • 1 GB of RAM.
  • 4GB of storage.
  • 2 or more PCI-e network interface cards.
Selanjutnya kita akan mencoba untuk membahas konfigurasi dari fitur-fitur OPNsense dan implementasinya pada jaringan. Namun, sebelum itu kita akan sedikit mengulas seperti apa gambaran umum mengenai fitur yang ada di OPNSense.

1. Dashboard 
OPNsense menyediakan fitur dashboard yang sangat membantu Administrator jaringan dalam melakukan monitoring perangkat OPNsense. Dengan adanya Dashboard kita bisa dengan cepat melihat informasi dari Firewall dan juga terdapat informasi lain seperti "Traffic Graphs", "System Information" dan masih banyak lagi.

 

2. Modern User Interface 
OPNsense memiliki tampilan yang "Modern", sehingga memudahkan kita dalam melakukan konfigurasi. OPNsense menyediakan berbagai macam bahasa, build-in help dan quick navigation dengan fitur searchbox sehingga memudahkan dalam melakukan pencarian.

 

3. Stateful Firewall 
Stateful Firewall adalah firewall yang dapat melacak koneksi jaringan seperti TCP Streams dan UDP Communication. OPNsense menyediakan pengelompokan beberapa rule firewall berdasarkan kategori.

 

4. Aliases & Geolite Country Database 
Pengelolaan rule Firewall bukanlah hal yang mudah. Dengan menggunakan Aliases kita dapat mengelompokan beberapa IP atau host ke dalam daftar, kemudian kita bisa lakukan manajemen  list tersebut menggunakan firewall. Selain itu IP atau Hostname dapat di ambil dari External URLs, sebagai contoh kita bisa melakukan DROP dari Abuse.ch's Ransomware tracker dan Maxmind GeoLite2 Country database.

 

5. Traffic Shaper 
Traffic Shaping dengan OPNsense sangat fleksibel dan dapat diatur menggunakan fitur, Pipes, Queues, dan Corresponding rules.

 

6. Two-factor authentication 
Two-factor authentication  atau dikenal juga sebagai verifikasi 2FA, atau verifikasi 2 langkah. 2FA adalah metode otentikasi yang membutuhkan dua komponen seperti PIN/Sandi+Token. OPNsense menawarkan dukungan penuh untuk Two-factor authentication (2FA) di semua sistem yang menggunakan TOTP seperti Google Authenticator.

Layanan 2FA yang didukung meliputi: 
  • OPNsense Graphical User Interface
  • Portal Captive
  • Virtual Private Networking - OpenVPN & IPsec
  • Caching Proxy
 

7. Captive Portal 
Captive Portal memungkinkan Anda untuk melakukan autentikasi sebelum client terhubung ke internet, atau biasa di sebut dengan Hotspot. Biasanya digunakan pada jaringan corporate untuk keamanan tambahan pada wireless atau koneksi Internet, OPNsense juga menawarkan fitur Radius dan Voucher.

 

8. Virtual Private Network - IPsec  & OpenVPN GUI 
OPNsense memiliki beberapa teknologi VPN seperti PPTP, L2TP, OpenVPN, Ipsec. VPN pada OPNsense bisa digunakan untuk topologi Site to Site atau Mobile Client.

 

9. High Availability / Hardware Failover (CARP) 
OPNsense menggunakan Common Address Redundancy Protocol atau CARP untuk kebutuhan hardware  Failover. CARP menggunakan 2 atau lebih perangkat yang di konfigurasi untuk failover. Jika perangkat utama mati, maka akan digantikan oleh perangkat kedua. 

 

10. Caching Proxy 
Caching Proxy pada OPNsense sepenuhnya termasuk dalam kategori webfiltering, Access control list yang dapat berjalan pada mode transparant. Dan fitur proxy ini dapat dikombinasikan dengan traffic shapper.

 

11. Intrusion Detection & Prevention 
Sistem IPS OPNsense berbasis dari Suricata dan dilengkapi Netmap  untuk meningkatkan kinerja dan meminimalkan penggunaan CPU. Berberapa fitur yang didukung oleh IPS sistem dari OPNsense antara lain sebagai berikut: 
  • Integrated support for ET Open rules.
  • Integrated SSL Blacklist (SSLBL)
  • Intergrated Feodo Tracker

 

12. SSL Finger Printing 
Opsi IPS yang digunakan untuk mengijinkan rule yang ditetapkan pengguna termasuk opsi untuk Fingerprint SSL. Dengan opsi ini, komunikasi SSL dapat diblokir pada koneksi baru dengan melakukan dropping terhadap SSL key exchange.

 

13. Backup & Restore 
OPNsense menyediakan fitur Backup dan restore yang digunakan untuk menyimpan konfigurasi yang sudah diterapkan. 
  • History
  • Backup
  • Restore
  • Cloud Backup

 

14. Reporting & Monitoring 
OPNsense menyediakan reporting dan monitoring system, seperti: 
  • System Health
  • Netflow Exporter
  • Insight - Intergrated Netflow Analyser

 

15. Firmware & Plugin 
OPNSense menyediakan upgrade firmware setiap minggu yang berguna untuk mencegah dari ancaman-ancaman yang selalu update. Plugin dapat digunakan untuk menginstall package tambahan.

 

16. Free Up-to-Date Online Manual 
Dokumentasi Online mengenai OPNsense dapat di cari dengan mudah, selalu up to date dan bisa di dapatkan secara gratis. Fitur-fitur pada OPNsense juga dijelaskan secara detail, dan terdapat tutorial konfigurasi OPNsense secara sederhana. Dokumentasi tersebut dapat Anda temui pada halaman berikut: https://docs.opnsense.org/ 

 


Sumber: https://citraweb.com


Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Hotswap Intel Raid

Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Hotswap Intel Raid

[Mikrobits ETNA] Hotswap Intel Raid


Pada Artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai fitur-fitur yang terdapat pada Mikrobits Etna, mulai dari mereview Produk Mikrobits Etna, membahas mengenai Fitur IPMI, hingga Instalasi beberapa operating system pada Mikrobits Etna. Dan pada artikel kali ini, kita akan mencoba melakukan Hotswap harddisk dan melihat proses recovery harddisk ketika terjadi harddisk yang eror pada Raid.
Hot Swap merupakan fungsi umum yang biasa terdapat pada Server, dan digunakan untuk melepas atau memasang Harddisk tanpa harus mematikan server. Hotswap ini sangat berguna ketika Harddisk pada server mengalami masalah hingga perlu dilakukan penggantian. 
Pada percobaan kali ini kita menggunakan operating system Ubuntu Server 16.04.6, kemudian kita install ubuntu server tersebut, detail instalasi ubuntu server bisa dilihat disini
Pada kasus ini, kami menggunakan 4 harddisk yang kita jadikan satu menggunakan Raid5, kemudian system ubuntu server kita install pada storage bawaan Mikrobits Etna, yaitu pada SSD M2sata Innodisk. Konfigurasi RAID pada bios Mikrobits Etna sudah pernah kita bahas, detail dapat dilihat pada artikel kami yang berjudul [Mikrobits ETNA] Instalasi Sistem Operasi. Jadi pada artikel kali ini kita akan menggunakan Raid controller yaitu Intel Raid Storage Technology yang terdapat pada Bios Mikrobits Etna. 
Setelah berhasil membuat Raid5 pada bios Mikrobits Etna, maka kita akan mendapati tampilan sebagai berikut: 
 
Setelah operating system sudah berhasil terinstall maka kita bisa melakukan pengecekan dengan mengetikkan perintah "lsblk" untuk melihat harddisk yang terdapat pada Ubuntu server tersebut. 
 
Proses Pengujian 
Raid5 memiliki toleransi kerusakan hingga 1 harddisk, jadi kita bisa melepas salah satu harddisk yang digunakan diatas, dan kita lakukan pergantian harddisk tersebut dengan harddisk baru. 
Kemudian kita lihat status Raid pada Bios Mikrobits Etna: 
  
terdapat status Degraded pada Bios, dan terdapat harddisk baru yang akan digunakan untuk membackup harddisk yang kita cabut diatas. Harddisk baru tersebut memiliki serial WXJ1AA62DDZ1. Pilih enter untuk melakukan rebuild pada Harddisk tersebut. 

Status untuk Harddisk dengan serial WXJ1AA62DDZ1 akan menjadi member dari Raid5 dengan status Rebuild. 
  
Kita bisa lakukan reboot dan bisa melihat proses rebuild dengan menggunakan perintah berikut: cat /proc/mdstat 
  
Kita tunggu proses rebuild pada harddisk baru tersebut, jika proses sudah berhasil maka status pada Intel Raid Storage Technology akan kembali menjadi Normal. 
 

Sumber: https://citraweb.com
Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Install Freenas pada Mikrobits Etna

Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Install Freenas pada Mikrobits Etna

[Mikrobits ETNA] Install Freenas pada Mikrobits Etna


NAS (Network Attached Storage) pada dasarnya merupakan sebuah komputer yang difungsikan untuk media penyimpanan data. Biasanya NAS ini terhubung ke jaringan lokal supaya klien-klien dapat menyimpan data, bertukar informasi dll. Sedangkan FreeNAS merupakan operating system berbasis FreeBSD yang memang didesain khusus untuk membuat NAS atau memfungsikan Server/PC agar bisa berfungsi menjadi NAS. 

Instalasi FreeNAS 
Disini kami akan mencoba Untuk mengintstall FreeNAS pada Mikrobits Etna, langkah pertama kita bisa mendownload file .ISO terlebih dahulu yang bisa Anda dapatkan disini,  Setelah berhasil mendownload maka langkah awal kita akan melakukan konfigurasi BIOS yang digunakan untuk mendukung proses instalasi nantinya. Untuk masuk kedalam BIOS pada saat booting kita bisa menekan tombol [ESC] atau [Del] pada keyboard. 
Selanjutnya konfigurasi BIOS dilakukan pada Tab 'IntelRCSetup', kemudian pilih PCH Configuration. Kemudian pada "Configure Sata As" bisa kita pilih dengan tipe "AHCI". 
 
Konfigurasi Boot dll pada Mikrobits Etna sudah pernah kita bahas pada artikel yang berjudul [Mikrobits ETNA] Instalasi Sistem Operasi
Langkah selanjutnya mengenai proses instalasi freeNAS dapat dilihat disini

Setelah proses instalasi berjalan dengan sukses, maka langkah selanjutnya kita bisa mengakses FreeNAS menggunakan web interface. Secara default konfigurasi IP pada FreeNAS adalah DHCP sehingga kita bisa langsung mengaksesnya menggunakan web browser. 

Halaman pertama yang akan muncul adalah login page, kita bisa menggunakan username: root dan password yang sudah kita konfigurasi ketika proses intalasi FreeNAS. Setelah melakukan login maka kita akan mendapati tampilan FreeNAS sebagai berikut: 
   
Membuat Volume 
Pada Mikrobits Etna terdapat 4 Slot Hardisk 2.5" yang akan digunakan sebagai media penyimpanan. Jika hardisk sudah terpasang dengan baik maka kita bisa melakukan pengechekan terhadap hardisk tersebut sudah terbaca atau belum pada menu Storage>>volumes>>view Disks 
  
Pada kasus ini, Operating system FreeNas kami instal pada storage baawaan Mikrobits Etna yaitu mSATA SSD 128GB. Kemudian ke empat hardisk tambahan (ada1, ada2, ada3, ada4) akan kami gunakan sebagai media penyimpanan. Ketika menambahkan hardisk pastikan untuk mereboot FreeNAS terlebih dahulu supaya hardisk dapat terbaca dengan baik. 

Jika hardisk sudah terbaca dengan baik maka langkah selanjutnya kita bisa melakukan konfigurasi RAIDRAID (Redundancy Array of Independent Disks) merupakan sebuah teknologi yang digunakan untuk menggabungkan beberapa harddsik ke dalam satu drive secara 'Virtual'. Secara umum fungsi dari RAID ini digunakan untuk membuat ruang penyimpanan menjadi lebih besar. Selain itu RAID juga digunakan untuk melakukan fungsi redundansi, sehingga ketika salah satu harddisk mengalami kerusakan maka data tidak hilang karena memliki "backup" pada harddisk yang lain. 
Kita bisa lakukan konfigurasi Volume dengan memilih menu Storage>>Volumes, maka akan mendapati tampilan menu sebagai berikut: 
  
Ada beberapa tipe Volume yang disediakan oleh FreeNAS, seperti "Stripe" , "Mirror" , "RAIDZ1" , "RAIDZ2" , "RAIDZ3" , "Log Device" , "Cache Device". Pada kasus diatas kita menggunakan 4 harddisk maka kita bisa memilih menggunakan RAIDZ2. RAIDZ2 ini membutuhkan setidaknya 4 Harddisk dan toleransi akan kerusakan hingga 2 Harddisk. Jika sudah melakukan konfigurasi maka kita bisa menambahkan volume dengan menekan tombol "Add Volume". 

Setelah berhasil membuat Volume maka kita bisa memberikan service sesuai dengan kebutuhan, disini kita akan mencoba untuk membuat File Sharing menggunakan Windows (smb) Share. 
  1. Langkah pertama bisa menekan Sharing>>Windows (SMB)>>Add Windows (SMB) Share kemudian akan muncul pop up baru seperti berikut: 
      
  2. Langkah berikutnya kita bisa membuat user untuk Folder Teknisi tersebut, langkahnya bisa masuk ke menu User Account>>Add User 
  3. Tahap pengujian kita bisa mengakses File Server tersebut menggunakan alamat IP Address kemudian kita akan di minta untuk melakukan login menggunakan username dan password yang sudah kita buat seperti diatas. 
     
Sumber: https://citraweb.com/
Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Install CHR di Proxmox Virtual Environment

Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Install CHR di Proxmox Virtual Environment

[Mikrobits ETNA] Install CHR di Proxmox Virtual Environment


Proxmox VE atau Proxmox Virtual Environment adalah salah satu distro linux dengan basis Debian yang memiliki fungsi sebagai virtualisasi baik appliance maupun operating system. Dengan Proxmox ini, kita bisa menjalankan beberapa sistem operasi secara besamaan dengan menggunakan satu perangkat, disini kami menggunakan Mikrobits Etna. Dengan Proxmox ini tentu dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan daripada mereka harus memiliki satu server untuk satu layanan. 

Cara Instalasi Proxmox 
Cara instalasi Proxmox ini sangat mudah, Anda tinggal mendownload file Iso yang bisa Anda download disini. Kemudian untuk langkah-langkah detail instalasi proxmox dapat dilihat disini. Pada Proses installasi proxmox akan menggunakan seluruh ruang storage yang ada, ini artinya Anda harus menyediakan 1 Server/Komputer dengan HDD khusus hanya untuk proxmox saja.

Jika Proxmox sudah berhasil terinstall dengan sukses pada Mikrobits Etna, maka langkah selanjutnya kita bisa mengakses Proxmox dengan cara menuliskan alamat IP Address yang sudah kita konfigurasi pada tahap installasi diatas, kemudian tambahkan port proxmox yaitu "8006". Kita bisa mengaksesnya pada browser dengan format berikut: 

https://XX.XX.XX.XX:8006 (xx.xx.xx.xx merupakan IP Proxmox) 

Jika berhasil maka akan mendapati tampilan berikut: 
 

Karena menggunakan SSL yang tidak dikenali maka kita akan mendapati tampilan SSL Warning pada browser, hal ini dikarenakan WEB GUI Proxmox VE secara default menggunakan protokol HTTPS dengan sertifikat SSL yang  ditanda tangani sendiri (self signed), Anda dapat abaikan warning ini dengan cara sebagai berikut: 

  

Kemudian kita akan mendapati halaman login, dan silahkan gunakan password yang sudah dibuat ketika proses instalasi diawal tadi. 

  

Menambahkan Hardisk pada Proxmox 
Jika pada proses install Proxmox diatas, kita memilih storage "innodisk" yang memiliki kapasitas hanya 120GB, maka bagaimana jika kita ingin menambah kapasitas harddisk yang digunakan? Nah disini kami mencoba menambah hardisk yang memiliki kapasitas 500GB. Untuk menambahkan hardisk pada Proxmox kita harus melakukan sedikit konfigurasi karena proxmox tidak bisa langsung mendeteksi hardisk yang sudah kita pasangkan. 

  1. Langkah pertama, pastikan bahwa hardisk sudah terpasang dengan baik dan benar.
  2. Kemudian kita bisa melakukan pengechekan apakah sudah terbaca atau belum hardisk yang kita pasangkan dengan cara klik Nodes yang kita miliki kemudian masuk ke menu Disk. 
     
    Jika kita lihat pada gambar diatas, terdapat beberapa storage device. Seperti storage device "sda" yang sudah digunakan untuk system, kemudian hardisk tambahan yang kita gunakan dengan nama "sde". 
  3. Kita bisa meremote proxmox menggunakan SSH atau menggunakan fitur shell yang sudah disediakan. 
  4. Langkah selanjutnya kita bisa ketikkan perintah "fdisk /dev/sde" untuk membuat partisi. Jika hardisk yang digunakan lebih dari 2TB, maka tidak bisa menggunakan perintah fdisk.
  5. Untuk membuat partisi baru kita bisa ketikkan "n" pada terminal kemudian tekan enter.
  6. Kemudian kita bisa memilih tipe partisi dengan menekan tombol "p", untuk Partition Number, First Sector dan Last Sector bisa kita biarkan default saja dengan menekan tombol "enter".
  7. Save partition dengan mengetikkan "w" kemudian enter.
  8. Setelah berhasil membuat partisi maka langkah selanjutnya membuat Physical Volume dengan mengetikkan perintah berikut: "pvcreate /dev/sde1"
  9. Langkah selanjutnya adalah membuat volume group dengan perintah berikut:"vgcreate BARU4 /dev/sde1". "BARU4" merupakan nama volume grup untuk penandaan nanti ketika konfiguasi Proxmox pada browser.
  10. Jika ingin membahkan hardisk baru, maka langkahnya sama seperti langkah diatas.

Jika sudah berhasil, kita bisa menambahkan LVM PROMOX VE dengan melakukan login ke proxmox via browser dengan cara https://xx.xx.xx.xx:8006 (xx.xx.xx.xx merupakan IP Proxmox). 
Kita bisa masuk ke datacenter, kemudian pilih storage, dan tambahkan LVM. 

 

Kemudian kita bisa sesuaikan konfigurasi seperti berikut, Volume Group sesuaikan dengan yang sudah kita buat dengan perintah "vgcreate" diatas tadi. 
  

Install CHR pada Proxmox 
  1. Langkah pertama kita bisa membuat VM terlebih dahulu menggunakan Proxmox via WEB GUI. Kita bisa klik tombol Create VM yang terletak di sebelah kanan atas. Untuk konfigurasi dapat Anda sesuaikan seperti gambar berikut:



  2. Ketika masuk pada tab "Harddisk", ada tambahan konfigurasi yang harus di terapkan. Jika masih menggunakan default config maka kita tidak bisa menggunakan storage "Local", kita harus menambahkan opsi disk image pada storage "Local" yang dapat ditemui pada Datacenter>>Storage>>Local
     





  3. Jika sudah berhasil membuat VM, maka langkah selanjutnya kita bisa meremote Proxmox via SSH, dan masuk ke directory var/lib/vz/images/(VM_ID). Sebagai contoh disini kita masuk ke directory 103, sesuai dengan yang sudah kita buat saat melakukan create VM menggunakan Proxmox via WEB GUI.
  4. Selanjutnya kita bisa mendownload file .vmdk yang terdapat di website Mikrotik.com/download, dengan perintah berikut wget (link download file .vmdk)

  5. Setelah file .vmdk terdownload, maka langkah selanjutnya kita bisa melakukan convert CHR .vmdk  to qcow2 menggunakan perintah berikut: 
     qemu-img convert -f raw -O qcow2 chr-6.40.3.img vm-(VM_ID)-disk-1.qcow2

  6. Jika sudah kita bisa klik tombol "start" pada Proxmox Web GUI, kemudian kita bisa melakukan percobaan remote Router CHR tersebut, apakah sudah berjalan atau belum.

  7. Jika sudah berjalan, maka kita bisa gunakan CHR tersebut sesuai dengan kebutuhan kita.
Sumber: https://citraweb.com
Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Remote Install Operating System dengan IPMI

Tutorial Mikrotik: [Mikrobits ETNA] Remote Install Operating System dengan IPMI

[Mikrobits ETNA] Remote Install Operating System dengan IPMI


Minggu lalu kita sudah membahas mengenai apa itu IPMI pada Mikrobits Etna, Jika Anda belum membaca artikel kami sebelumnya, Anda dapat baca pada artikel berikut "Fitur IPMI pada Mikrobits Etna". Nah artikel ini masih ada keterkaitannya dengan artikel sebelumnya, kali ini kita akan membahas mengenai Remote Install Operating system dengan IPMI. 

Jika Operating System yang terdapat pada perangkat mengalami masalah, maka kita juga bisa melakukan troubleshooting dengan IPMI, kita tetap memiliki akses terhadap perangkat tersebut. Jika troubleshooting tidak bisa dilakukan, maka salah satu solusinya kita bisa menginstall ulang perangkat tersebut. Proses install ulang bisa kita lakukan secara remote dari jauh menggunakan IPMI, sehingga kita tidak harus datang dan berhadapan dengan perangkat secara langsung. 

Pada artikel kali ini kita akan mencoba menginstall ulang dengan 2 metode yaitu sebagai berikut: 
1.    Install Operating System dari PC/Laptop. 
2.    Install Operating System dari File Server. 

Untuk menginstall Operating System dari PC/Laptop, langkah pertama yaitu kita remote Mikrobits Etna menggunakan Java Console. Konfiguarasi Java Console sudah kami bahas pada artikel sebelumnya yang dapat Anda lihat pada artikel berikut "Fitur IPMI pada Mikrobits Etna". 

1.    Install Operating System dari PC/Laptop 

Untuk menginstall ulang perangkat menggunakan Java Console ini, Ada beberapa pilihan yang bisa kita gunakan, kita bisa memilih mount menggunakan Floppy Image, CD Image, HD/USB Image. Tentunya dari ketiga pilihan diatas memiliki ekstensi yang bervariasi. 

Sebagai contoh kita bisa menggunakan CD Image dengan ekstensi .ISO. kemudian Kita bisa mount terlebih dahulu file .ISO jika kita menginginkan booting via CDROM IPMI. Kita bisa mengklik gambar storage yang terdapat pada gambar berikut: 

  

Kemudian pada menu CD/DVD Media, kita bisa mencari file ISO yang tersimpan di laptop dengan tombol browse. Setelah itu kita bisa klik "Connect CD/DVD". Setelah berhasil maka akan mendapatkan notifikasi sebagai berikut: 

 

Jika sudah kita bisa konfigurasi booting yang terdapat pada bios dengan menekan tombol "del" pada saat perangkat booting. 

  

Setelah berhasil masuk bios dengan menekan tombol "del", maka selanjutnya kita bisa masuk ke tab Save & Exit kemudian pada "Boot Overide" kita bisa pilih "AMI Virtual CDROM0 1.00". 

  

Setelah berhasil booting via AMI Virtual CDROM0 1.00 maka akan booting sesuai dengan operating system yang kita mount diatas tadi. 

  

2.    Install Operating System dari File Server

Untuk metode Install Operating System dari File Server tidak jauh berbeda prosesnya seperti diatas, yang membedakan hanya ketika kita memilih file ISO yang terdapat pada File Server. 
Langkah pertama kita bisa meremote IPMI terlebih dahulu. 

  

Setelah melakukan Login, maka langkah selanjutnya adalah masuk ke menu Configuration>> Images Redirection. Maka akan mendapati tampilan sebagai berikut: 

  

Karena File .ISO terdapat di perangkat yang lain, dalam artian file .ISO terdapat di file server maka kita bisa klik  "Remote Media" terlebih dahulu kemudian masuk ke menu "advance setting". Kemudian kita bisa isikan beberapa parameter sebagai berikut: 

  

Pastikan Source Path, username dan password sudah terisi dengan benar, jika sudah kita bisa klik save. Jika sudah terisi dengan benar maka akan mendapatkan tampilan sebagai berikut. Anda bisa pilih Image yang ingin gunakan kemudian klik start Redirection.

  

Maka langkah selanjutnya sama seperti diatas, kita bisa masuk ke bios kemudian pilih booting via "AMI Virtual CDROM0 1.00". 

*) Catatan: 

Dengan adanya IPMI pada Mikrobits Etna, sangat membantu dalam memanajemen server atau memonitoring server.  Namun untuk kebutuhan instalasi Operating System menggunakan MikroBits Etna tidak direkomendasikan. Karena untuk beberapa Operating system seperti Ubuntu Server, akan meminta konfigurasi interface yang terhubung ke jaringan, sehingga koneksi remote IPMI akan otomatis terputus. Kita harus mengakses server secara langsung untuk memilih interface tersebut, kemudian barulah IPMI bisa di akses kembali. Berbeda kasus ketika kita menginstall Windows Server secara remote menggunakan IPMI, proses instalasi untuk Windows Server berjalan lancar dan koneksi ke IPMI tidak terputus sehingga kita bisa lakukan instalasi secara penuh menggunakan IPMI untuk Windows Server. 

Sumber: https://citraweb.com